Saturday, December 08, 2007

Hujan Tak Jua Kunjung Datang

2007, November telah berlalu, para petani telah usai munuai hasil bumi yang dirawatnya selama setahun kemarin. Apa yang diraihnya cukuplah untuk menggantikan lelahnya waktu yang telah dilalui dengan penuh kesabaran. Bukan karena hasil yang bertambah banyak, karena ditiap tahunnya jumlah yang dikumpulkan tak pernah jauh berbeda, tapi semua karena harga jual di tahun ini semakin membaik. Meskipun kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi, kondisinya menjadi tetap sama, hal ini disebabkan karena harga kebutuhan pemenuhan harian untuk hidup semakin membumbung tinggi. Namun begitu tetap saja harus di syukuri bahwa kelimpahan masih diberikan oleh Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Pemberi.

Desember telah datang, mentari masih setia menemani waktu disepanjang harinya, tak tergantikan oleh mendung. Biasanya ditahun-tahun sebelumnya, hujan telah turun membasahi bumi, menyapa sang pohon, bercengkrama dengan sang rumput yang mulai meranggas, memberikan rasa sejuk pada tiap mahluk yang ada di bumi. Kali ini, di tahun ini, hal seperti itu tidak terjadi. Hujan belum turun, bumi begitu merindukan kehadirannya, ini tampak dari rekahan tanah yang semakin melebar, yang hanya akan terkatup-menyatu kembali jika air datang dan membasahinya. Rerumputan mulai mengering dan me-layu tak kuasa menahan kerinduan basuhan air bening yang dingin. Pepohonan nasibnya tak jauh berbeda. Manusia mulai melenguh, berkeluh dan bertanya-tanya kapan hadirnya sang hujan. Jauh sekali perginya, kanapa tak kunjung datang jua. Desember hujan semestinya sudah turun, bahkan sedang lebat-lebatnya, tapi kali ini tidak.

Petani mulai menghitung waktu, jadwal perawatan yang mestinya diberikan pada tanaman perkebunan jadi tertunda-tunda. Pupuk sebagai unsur hara yang harus ditambahkan, ditebarkan, sekarang tertunda karena hujan belum kunjung tiba. Pemangkasan ranting tanaman menjadi setengah hati dilakukan, karena tak kunjung tampak tunas baru sebagai tunas harapan di masa datang. Tunas sumber mimpi keseharian untuk menapaki waktu menuju panen tahun depan. Hujan belum menumbuhkannya. Hanya hujan yang mampu sempurnakan proses alam tersebut.

Bunga-bunga yang pernah mekar, mulai tampak menjadi calon buah, ini bisa terjadi sementara hanya bantuan dari “damuh” yang masih setia hadir dikala malam selimuti bumi. Damuh, titik-titik air yang tercipta di pekatnya malam telah mebantu terbentuknya bakal buah dari proses setelah bunga muncul dan mekar. Damuh, sisa harapan di tahun depan, ketika waktu panen kan jelang.

Pohon petani butuh lebih dari itu, bukan hanya damuh, tapi hujan. Pohon itu butuh makanan, ketersedian makanan itu butuh pemupukan, pemupukan itu butuh pembusukan, pembusukan itu butuh rerumputan dan kelembaban, ujung-ujungnya semua itu butuh air sebagai medianya, dan air itu haruslah hujan. Namun hujan belum juga datang.

Harapan petani yang telah tertanam di bumi berwujud pohon, tertancap dengan kokohnya kini masih murung menanti datangnya hujan. Mimpi tentang panen di tahun depan masih larung bersama awan yang tak kunjung hadir diatas bumi ini, awan yang segera berubah menjadi puluhan titik-titik air yang siap tercurah ke bumi, lalu menyusup terus kedalam manjangkau ujung akar dan segera meresap melalui tiap pembuluh pepohonan. Menjadi media penghantar hara untuk bahan pacu produksi buah. Buah yang akan dipetik tahun depan. Harapan kini tinggal pada hujan.

Apanya yang sebenarnya salah pada iklim kali ini. Kenapa alam menjadi berubah perangai. Kebiasaan yang tidak biasa. Waktu terus melaju. Desember tanggalnya terus begulir satu-satu, sebentar lagi akan segera berlalu, berganti Januari dengan angka tahun yang baru. Januari biasanya hujan terjadi sehari-hari, tapi kini Desember, hujan se-emberpun belum juga luruh ke bumi. Iklim semakin tak pasti.

Petani kini hanya bisa berharap. Petani hanya bisa berdoa. Petani hanya bisa bermimpi, tentang panen tahun nanti. Diantara harapan, doa dan mimpi, petani terus bertanya-tanya, “Kenapa Hujan Tak Jua Kunjung Datang?”

::damuhbening::